|
Seri : Mezbah Keluarga: Pria Ambil Peranmu!
Pada jaman pemerintahan Raja Yosafat (2 Tawarikh 20), kerajaan Yehuda pernah mengalami krisis keamanan, karena musuh tiga bangsa datang serentak mengepung mereka yang hanya dua suku, Yehuda dan Lewi (Israel telah pecah menjadi dua kerajaan). Negara dalam keadaan gawat, darurat dan ketakutan (ayat 1-3).
Bukankah juga keadaan bangsa kita saat ini? Ketakutan karena bahaya disintegrasi, kerusuhan sosial, masalah agama, ekonomi, sosial atau politik datang serentak!
Singkat cerita, ketika akhirnya pasukan perang berangkat ke medan perang, ternyata musuh binasa semua (ayat 24). Jadi kisah ini yang seru bukan pertempurannya, tetapi sebelum bertempur. bahkan tiga hari tiga malam mereka mengumpulkan barang jarahan musuh yang sudah binasa (ayat 25), hingga hari ke empat mereka memutuskan untuk berhenti mengumpulkan berkat, karena sudah terlalu banyak dan mereka seharian memuji Tuhan di lembah pertempuran itu, sehingga disebut lembah pujian.
Musuh yang menakutkan telah berubah menjadi kurir pengantar barang berharga, musuh yang banyak berubah menjadi berkat yang besar, masalah yang menakutkan menjadi puji-pujian. Apa yang mereka lakukan merubah masalah menjadi berkat?
1. Mencari Tuhan (ayat 3)
2. Berpuasa dan berdoa (ayat 3,5,6-12)
3. Mendengar suara Nabi Tuhan (ayat 14-17)
4. Menyembah Tuhan (ayat 18)
5. Puji-pujian dengan suara nyaring (ayat 19,22)
6. Melayani dalam kekudusan (ayat 21)
Kenyataanya, banyak yang belum berhasil merubah masalah menjadi berkat. Ada orang berkata kepada saya,
“Pak, saya sudah mencari Tuhan dan masalah tetap masalah, malah suami saya tambah cemburu karena saya pergi mencari Tuhan, pergi doa, pergi KKR, pergi seminar dan retreat.”
“Saya sudah mendengar nabi-nabi bernubuat, ada yang dari India, dari Amerika, dari Singapura, dan malah saya bingung dengan segala penglihatan dan nubuatannya.”
“Pak saya sudah memuji Tuhan sampai suara saya parau”
“Pak, saya sudah berpuasa dan masalah tidak berubah menjadi berkat.”
“Pak, saya sudah mencoba hidup kudus, tetapi koq rasanya kekristenan seperti kuk yang berat, dan masalah tetap masalah.”
Saya ingin katakan selain apa yang dilakukan untuk merubah masalah menjadi berkat sesuai daftar di atas, juga cukup penting bagaimana cara mereka melakukan aktivitas tersebut di atas: 2 Tawarikh 20:13 “Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan Tuhan, juga segenap keluarga mereka, dengan istri dan anak-anak mereka.” Mereka melakukannya sekeluarga! Mereka dengan istri dan anak mereka! Ketika Yosafat menyerukan doa dan puasa, maka diadakan doa puasa raya bersama untuk bangsa, syafaat untuk bangsa dan ketika mereka berdoa, satuan terkecil dalam doa bersama adalah keluarga demi keluarga, bukan departemen, bukan kelompok usia. Dalam kelompok kecil, siapa pemimpin dalam satuan terkecil? Suami!
Suami berperan sebagai pemimpin dalam keluarga. Suami adalah kepala dari istri, seperti Kristus adalah kepala jemaat. Suamilah yang bertanggung jawab, yang memiliki otoritas/wewenang sebagai kepala keluarga. Efesus 5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 5:24
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. 5:28
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Istri akan tunduk kepada suami, kalau suami menjadi kepala dan memimpin. Istri akan tunduk kalau suami mengasihi dengan bukti yang jelas, yaitu korban. Suami harus menjadi pemimpin rohani di rumah dan imam bagi keluarganya. Dalam doa keluarga, suami harus mengambil pimpinan, istri harus mendorong dan memberi kesempatan kepada suami menjadi pemimpin. Sering dalam keluarga, ketika berdoa bersama, ibu kumpulkan anak-anaknya dan menarik-narik bapaknya, akhirnya bapaknya mau ikut juga berdoa. Hanya ikut, tidak memimpin, Kalau istrinya minta “Ayo papah yang pimpin doa!” Suaminya menjawab, “Mamah aja deh”. “ Ayo dong pa...papah kan kepala keluarga.” Lagi-lagi suaminya menjawab, “Mamah aja, karena mama lebih pintar doa.” Ini buka doa seperti yang diajarkan Alkitab. Ini bukan doa yang Alkitabiah, ini bukan doa yang benar. Suami, ambil peranmu sebagai kepala yang memegang otoritas! Suami-suami mengapa engkau cemburu karena istrimu rajin berdoa? Antar istrimu dan ikutlah berdoa dengan istrimu dan pimpin istrimu berdoa! Ir. Jarot Widjanarko |